Membunuh Tuhan
Siapa bilang Tuhan tak bisa mati! Tuhan bisa saja mati.! Tuhan
sering dibunuh oleh semua. Bukan saja aku, tetapi, kau dan kita! Ya semua telah
melakukan pembunuhan Tuhan. Bukan seorang kiai. Bukan seorang bhiksu dan pastor.
Bukan pula seorang suster, sampai seorang birokrat dan para kaum gembel, semua
juga melakukan pembunuhan Tuhan. Maka Tuhan pun bisa mati. Kalau dulu Nietcshe
mempermaklumkan kematian Tuhan. Kini, aku mengatakan, Tuhan pun bisa mati.
Tuhan sering terbunuh oleh kita. Bahkan kita sengaja
membunuhNya. Kemarin, Warman teman kerjaku menceritakan bagaimana Tuhan telah
tergadai oleh sepiring nasi. Lalu ditempat lain, Tuhan diperjual-belikan
sebanding dengan harga kangkung. Tuhan sudah bisa ditawar. Tuhan dihargai
murah. Tuhan diperdaya, dengan dalih mempertahankan hidup.
Belum lagi puluhan pedagang lainnya, turut melakukan hal yang
sama. Mereka membuang, dan menginjak Tuhan di hadapan para pembeli dengan
terang-terangan. Pada sebuah kedai malam, tempat berkerumunnya para perempuan
dan laki-laki, kembali Tuhan diperdaya. Tuhan dibutakan sama sekali. Dan proses
pembunuhan Tuhan pun kembali terjadi. Tuhan benar-benar ditiadakan, sekalipun
ketiadaan itu adalah Tuhan. Tawa dan canda membawa mereka semakin mengubur
Tuhan. Larangan bukan lagi yang mesti ditakuti. Semua mereka jalani, tanpa lagi
melihat Tuhan. Dan di dalam kamar remang, Tuhan pun terselip di balik kasur.
Terlibas oleh dengus napas yang memburu hingga pagi tiba.
Dalam gedung pemerintah, tempat berkumpulnya orang-orang yang
mengaku mewakili rakyat. Ada
seribu lagi cara orang-orang membunuh Tuhan. Ketika sebuah pabrik dilaporkan
melakukan pencemaran. Maka, ratusan orang pun berduyun-duyun membawa nama Tuhan
ke gedung itu. Katanya, demi lestarinya bumi Tuhan. Maka berteriaklah
orang-orang tadi. Begitu juga orang-orang yang suka berkerumun di gedung
pemerintah itu. Mereka bicara lantang. Seakan Tuhan berada di samping kanan
kiri mereka. Lalu mengatas-namakan pelestarian lingkungan, demi terjaganya
sungai titipan Tuhan, mereka memperdebatkan, sampai tak ada ujung pangkalnya.
Esoknya, surat
kabar bicara, limbah pabrik dianggap selesai. Bumi Tuhan kembali dinyatakan
bersih dari pencemaran.
Mulut-mulut pun terbeli oleh segepok rupiah. Maka suara Tuhan
pun tergadai lagi. Kerusakan dianggap perbaikan. Perbaikan diangap mengganggu
stabilitas pabrik. Mereka lalu membuat Tuhan menjadi Tuli. Orang-orang telah
membutakan Tuhan dari ketidak-butaan. Maka, mereka juga telah membuat Tuhan
menjadi mati. Tuhan telah Mati dalam kedirian mereka. Mati dalam detak
jantungnya, sehingga Tuhan bisa seenaknya dipanggil dan diusir kapan saja.
Tuhan tak ubahnya seperti seorang pembantu. Ia dipanggil ketika dibutuhkan.
Lalu diusir ketika tidak lagi dibutuhkan. Tuhan hanya sekedar barang pelengkap.
Tak ada yang berarti apa-apa. Ternyata Tuhan benar-benar mati. Mereka telah
membunuhNya.
Pada sebuah mihrab masjid, atau di gereja dan vihara. Bukan saja
para kiai, pastor, dan bhiksu, mereka juga sama melakukan pembunuhan Tuhan.
Kujumpai orang-orang yang mengaku moralis itu, berjibaku dengan kediriannya
manusia yang paling dekat dengan Tuhan. Kiai, dengan ceramah dan
petuah-petuahnya, menidurkan kaumnya menjadi kaum yang suka menghitung pahala. Para kiai sudah mengajari umatnya, mengukur ibadah dengan
angka-angka. Ibadah ritual sudah bisa dihitung dengan material. Demikian pula
pastor, dan bhiksu. Melakukan pendekakan diri kepada Tuhan, tanpa
mempertanyakan dimana ia tinggal, dan berapa jumlah orang lagi yang masih
merasakan lapar dan haus. Bukan kiai, pastor dan bhiksu, mereka semua membunuh
Tuhan, sambil mereka asyik melakukan onani spiritual. Seolah sorga telah
menjadi milik mereka.
Tetapi, malam kemarin, Malaikat mengabariku. Katanya, "Pada
saatnya nanti, di hadapan Tuhan, banyak manusia yang terbalik. Ada ulama, kiai, pastor dan bhiksu masuk
neraka. Tetapi tidak sedikit para preman dan maling masuk sorga."
Ketika para kaum moralis itu bertanya, maka Tuhan pun menjawab,
"Kalian adalah manusia-manusia egois. Kalian merasa, bahwa hanya kalian saja
yang berhak atas sorga. Bukan! Bukan sama sekali. Sebab, ketaatan bukan saja
memuji dan memujaku sepanjang hari. Hei, kalian semua, para kiai, bhiksu dan
pastor, ternyata dalam ketataan, kalian telah mengesampingkan semua keadaan
yang namanya lapar, kehausan keterbelakangan, dan ketertindasan. Kenapa kalian
hanya diam dengan keadaan seperti itu? Kenapa kalian tidak perjuangkan juga,
sebagaimana kalian berjuang untuk mendapatkan sorga?"
Semua begong. Dan tertunduk malu. Sebuah kekuatan asing
tiba-tiba menarik mereka dengan kasar. Hanya lengkingan saja yang terdengar.
Kemudian suara gemuruh meningkahinya. Lalu, kematian Tuhan pun terjdi di
berbagai kantor pemerintah, swasta dan kantor agama sekalipun. Sekelompok orang
berduyun-duyun melamar di lembaga agama. Katanya, mereka berniat untuk lebih
dekat dengan Tuhan. Dengan berbagai cara, mereka lalu masuk.ke dalamnya,
setelah sebelumnya mereka juga harus menggadaikan Tuhan dalam diri mereka
dengan harga 15 sampai 20 juta rupiah. Di sebuah kantor agama, tempat orang
banyak bertanya tentang Tuhan. Tempat berkumpulnya orang-orang yang mengaku
dekat dengan Tuhan. Di sana,
masih juga ada pembunuhan Tuhan.
Tapi sebenarnya zat Tuhan takkan pernah mati. Ia akan tetap
hidup. Soalnya, akankah Tuhan tetap hidup dalam kedirian kita? Bisakah kita
terus mempertahankan Tuhan tetap bersemayam dalam kerohanian kita? Atau kita
juga bagian dari orang-orang yang sering membunuh Tuhan?
***
***
0 komentar:
Post a Comment